Beranda > News - Techno > Kasihan Manusia mau Nelpon Aja Mikir

Kasihan Manusia mau Nelpon Aja Mikir

Tema : Turunnya Tarif Telekomunikasi Terhadap Kehidupan Sosial dan Ekonomi Masyarakat Indonesia

Perkembangan teknologi seluler yang sangat pesat disertai dengan harga ponsel dan tarif seluler yang semakin terjangkau rupanya telah mempengaruhi gaya hidup masyarakat kita. Mulai dari pebisnis hingga masyarakat kelas bawahpun tidak ketinggalan. Pembantu, tukang parkir, pedagang loper koran, dan termasuk anak-anak yang masih sekolah di SMA, SMP, bahkan SD sudah menggenggam handphone kemana-mana. Banyak manfaat yang dapat kita ambil dari perkembangan teknologi telekomunikasi tersebut, antara lain:

  • Biaya komunikasi yang terjangkau mampu meningkatkan kembali jalinan tali silaturahmi yang lebih baik dengan sanak saudara yang terpisah jarak dan waktu.

  • Memungkinkan lebih terbukanya berbagai akses dan peluang lebih luas yang dapat diraih di segala bidang kehidupan, seperti akses pengetahuan, peluang usaha, relasi bisnis, maupun politik dan pelayanan publik.

  • Komunikasi yang baik diharapkan mampu membuat komunitas tertentu lebih maksimal dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan positifnya di masyarakat. Misalnya saja dalam hal sosial, pendidikan, IPTEK, budaya, dan bidang lainnya. Dengan begitu, diharapkan dapat meningkatkan kepedulian masyarakat di masa-masa mendatang sebagai bagian pemberdayaan masyarakat.

  • Produsen dan penjual handset, Operator, dealer dan distributor kartu seluler, dan pembuat content dapat memajukan usahanya.
  • Perusahaan penyedia barang dan jasa masyarakat yang banyak tergantung pada informasi dan telekomunikasi diharapkan dapat menurunkan harga jual produknya (mengikuti tarif telekomunikasi yang turun drastis) sehingga akan mengurangi beban ekonomi masyarakat saat ini.

  • Peluang pemanfaatan sumber daya yang ada, baik di dalam suatu daerah maupun pengembangan antar daerah karena lebih terbukanya akses informasi dan komunikasi. Dengan adanya hal tersebut diharapkan dapat mempercepat proses pembangunan daerah maupun pembangungan nasional.

Kondisi tersebut secara ekonomis menjadikan sebuah peluang usaha karena terciptanya sebuah komunitas baru yang akhirnya membentuk sebuah segmen pasar baru. Namun di sisi lain perkembangan tersebut juga menumbuhkan kekhawatiran akan adanya kebutuhan primer baru bagi masyarakat. Kekhawatiran akan semakin meningkat melihat kemampuan daya beli masyarakat yang tidak beranjak naik, tetapi kebutuhan ”primer” terkait dengan telepon seluler semakin meningkat.

Peningkatan semakin menjadi ketika pemerintah mengeluarkan kebijakan kepada para provider-provider agar menurunkan tarifnya. Penyedia jasa telekomunikasi pun berlomba-lomba untuk meraih pelanggan sebanyak-banyaknya. Laksana pasukan perang Israel yang membobardir Palestina, atau ketika serangan teroris di Mumbay, begitulah sekarang antar operator mengerahkan seluruh strategi perangnya.

Baru-baru ini keadaan perang itu tampak di mata atau telinga konsumen, ketika salah satu operator mulai memperkenalkan tarif Rp. 0,5/detik ditanggapi dengan promo Rp. 0,1/detik, lalu pemain lainnya pun turut dalam skema yang hampir serupa dengan Rp. 0,01/detik, “gemas” dengan pemain lain tersebut akhirnya operator tersebut “obral tarif” 0,00000…1 sampe puaasss, yang kemudian dibalas lagi dengan 0,0000000000…1 perdetik, bahkan ada salah satu diantaranya yang mengeluarkan tarif Rp.0(logika anak SD pun bisa berkata ,“Bohong banget, kalau gratis pendapatan perusahaan darimana?”).

Sementara itu, konsumen cenderung menelan mentah-mentah informasi dan menganggap permainan harga tersebut sudah sangat murah dan menguntungkan. Tanpa kita sadari, para pengusaha telekomunikasi sengaja memanfaatkan situasi ini dengan meraup keuntungan sebesar-besarnya dari konsumen.

Memang bukan hal yang asing jika Indonesia dikenal sebagai bangsa konsumtif yang tentu saja perilaku konsumtif ini memudahkan para pelaku bisnis untuk melebarkan sayap mereka dan mengeruk laba sebanyak-banyaknya. Secara tidak langsung mereka memaksa secara halus kepada konsumen untuk sering-sering menelepon, namun para konsumen terkadang tidak sadar. Dengan anggapan bahwa tarif sudah murah, konsumen pun inginnya telepon saja.

Padahal, jika meneliti lebih dalam, berbagai persyaratan yang berlaku di masing-masing operator pada inti hitungannya hampir sama antara tarif normal per menit dan tarif normal per detik. Bahkan, ada sederet persyaratan yang harus dipenuhi jika ingin mendapatkan tarif murah tersebut. Salah satunya dengan berbicara di internal operator sendiri. Promosi ini membuat seseorang dapat memiliki beberapa nomor handphone berbeda operator. Sungguh kehidupan yang semakin boros.

Pada saat ini rata-rata, ada sekitar lebih dari Rp 6 trilyun uang pelanggan ponsel pra bayar yang disetor ke saku para operator setiap bulannya. Dari 6 trilyun tersebut, 70% nya adalah berasal dari penjualan voucher Rp. 10-20rb an yang umurnya cuma sekitar semingguan dan dikonsumsi oleh kelompok masyarakat marginal. Artinya apa? Kalau ponsel itu ingin hidup terus, maka pelanggan ponsel minimal harus mengeluarkan uang Rp. 40rb perbulan. Kalau dalam satu rumah tangga ada 4 ponsel (untuk ayah, ibu dan 2 anak mereka yang masih duduk di bangku sekolah) maka pengeluaran rumah tangga untuk ponsel sekurang-kurangnya adalah Rp. 160 rb per bulan, bahkan bisa lebih. Ini biasanya melebihi konsumsi listrik, air bersih, dan BBM untuk kendaraan pribadi mereka.

Sekarang coba bandingkan dengan harga beras. Jika satu keluarga mengkonsumsi 1 kg beras perhari, dan harga beras Rp. 5000 per kg, maka pengeluaran setiap keluarga untuk makanan pokok adalah Rp. 150rb per bulan. Jadi kalau dihitung-hitung, rata-rata pengeluaran keluarga marginal di Indonesia untuk konsumsi ponsel adalah melebihi anggaran makanan pokok. Maksud kami, yang harus dikritisi dan dipertanyakan adalah apakah pengeluaran ponsel ini cukup bernilai dan bermanfaat bagi masyarakat marginal Indonesia yang UMRnya hanya Rp 875rb per bulan itu? Apakah sudah waktunya dan cocok prioritasnya membelanjakan uang untuk jasa ponsel sebesar itu? Sementara kondisi pendidikan dan kesehatannya masih sangat minim!

Dikaji dari sudut sosial, perkembangan teknologi selular yang dibarengi dengan perkembangan teknologi HP dari berbagai merek, membuat masyarakat khususnya remaja, mengikuti tren berganti-ganti HP dengan seri terbaru. Telepon ponsel seolah-olah dijadikan identitas status sosial mereka. Setiap kali keluar telepon model mutakhir, mereka berupaya untuk mendapatkan dan memperlihatkannya kepada teman. Mereka juga sering meminjamkan ponselnya dan memperlihatkan pesan-pesan yang diterima ke temannya.

kemajuan teknologi telekomunikasi ini juga menyiratkan berbagai macam masalah. Mulai dari perlindungan konsumen, pelanggaran hak cipta, bahkan pencurian data-data pribadi. Belum lagi yang menyangkut masalah layanan selulernya seperti penipuan, pembunuhan karakter dan berbagai macam perbuatan yang tidak menyenangkan lainnya. Masalah-masalah tersebut dapat terjadi baik disengaja maupun tidak. Ada juga hal-hal kecil yang bisa menimbulkan efek hukum, seperti me-miss call seseorang sehingga menimbulkan gangguan, mengirim sms ke sembarang nomor dan berbagai macam persoalan lainnya. Terkadang sikap tidak dewasa kita ketika handphone dan kartu yang digunakan memiliki pulsa yang cukup untuk mengisengi orang lain. Efeknya bisa saja yang bersangkutan (penerima) menjadi salah tingkah akibat pesan yang disampaikan.

Dilain pihak, penggunaan teknologi telekomunikasi (handphone) juga dapat meningkatkan kriminalitas, analisis ini diambil oleh maraknya video porno yang merebak di kalangan pelajar dan dalam mengaksesnya cukup menggunakan telepon genggam. Pihak kepolisian seharusnya juga memperhatikan maraknya video porno yang beredar di kalangan pelajar. Kasus pemerkosaan, pelecehan maupun tindakan asusila lainnya tidak lagi didominasi oleh para penenggak minuman keras, tapi juga penikmat film blue di telepon genggam. Maraknya asusila di rumah-rumah kost maupun losmen yang di perani oleh generasi muda justru dimayoritasi oleh kalangan “baik-baik”.

Menurut penelitian yang telah dilakukan oleh berbagai kalangan pemerhati dan aktivis, tingkat perubahan dinamika remaja di Indonesia dalam 5 tahun terakhir menunjukkan gejala yang cukup buruk. Penyakit hura-hura, hedonisme maupun materialistik menghinggapi hampir 60 % remaja. Hal ini diperparah dengan lemahnya pengawasan orang tua, penegakan hukum, serta ketidakpedulian masyarakat terhadap perilaku menyimpang di kalangan generasi muda kita. Apresiasi untuk pemuda juga kurang diperhatikan oleh pemerintah. Baru-baru ini saja, Pemerintah mengakomodir kepentingan pemuda di organisasi partai politik. Itupun hanya diterapkan bagi partai politik baru

Agar tidak terjadi seperti hal-hal di atas, kita sebagai konsumen harus bisa bersikap bijaksana. Ingatlah tujuan utama kita membeli produk operator seluler sebagai sarana untuk mempermudah berkomunikasi kita dan tentunya dengan mudahnya komunikasi akan memudahkan aktifitas kita. Kita jangan mudah termakan oleh persaingan tarif operator seluler yang semakin murah. Tidak perlu bingung untuk memilih operator seluler yang cocok dengan kita karena semua operator perbandingan tarifnya tidak terlalu jauh. Jadi saran saya, menelponlah pada saat penting saja, jangan ganti-ganti nomor handphone baru dan gunakan ponsel hanya untuk hal-hal yang produktif. Jangan hambur-hamburkan uang anda untuk membeli pulsa yang tidak memberikan dampak yang positif. Misalnya untuk layanan content yang tidak bermutu (ring back tone, kuis, ramalan, berita artis,dll). Mulailah hidup hemat dari sekarang demi masa depan kita bersama…….

(oleh: Moch. Rizal Septian Putra)

Lomba Karya Tulis XL Award 2008

  1. Januari 5, 2009 pukul 1:10 pm

    “Kasihan Manusia, Mau Nelpon aja mikir” <==== Itu sebabnya saya ngga mau pake XL, Jelaslah bahwa Nelpon yang ngga pake mikir itu cuma Monyet ! Saya ngga mau dikatakan Monyet sama XL…..hehehe..Ya to ?

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: